Viral! Siswi SMKN 2 Garut Menangis Histeris: Diduga Korban Cukur Paksa Oknum Guru BK
Garut, KabarSakti.com – Dunia pendidikan di Kabupaten Garut kembali menjadi sorotan publik usai beredarnya video aksi protes sejumlah siswi SMKN 2 Garut yang menangis histeris. Mereka mengaku menjadi korban pemotongan rambut secara paksa oleh oknum guru Bimbingan Konseling (BK) saat razia kedisiplinan, Kamis (30/04/2026).
Video yang viral di media sosial itu memicu kemarahan luas. Dalam rekaman terlihat para siswi tampak terpukul dan mengaku mengalami trauma mendalam akibat tindakan yang dinilai tidak manusiawi dan berlebihan tersebut.
Peristiwa bermula dari razia kerapian yang dilakukan pihak sekolah. Namun, kemarahan memuncak ketika rambut sejumlah siswi yang berhijab justru dipotong sangat pendek hingga menyerupai gaya rambut laki-laki.
“Kami jadi malu dan kehilangan rasa percaya diri. Seharusnya guru mendidik, bukan mempermalukan murid seperti ini,” ujar salah satu korban dengan suara terbata-bata.
Kondisi ini juga mendapat penolakan keras dari orang tua siswa. Mereka menolak jalan damai dan mendesak pihak sekolah segera memutasi oknum guru yang bertindak semena-mena tersebut.
“Kami tidak terima. Jika tuntutan tidak dipenuhi, kasus ini akan kami bawa ke ranah hukum,” tegas perwakilan orang tua.
Merespons polemik ini, Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, bertindak cepat. Ia memfasilitasi 18 siswi korban untuk mendapatkan perawatan dan perapihan rambut di salon kecantikan sebagai bentuk dukungan moral.
Meski demikian, Kang Dedi juga mengingatkan agar siswa tidak menyimpan dendam, namun menegaskan bahwa penerapan disiplin harus bersifat mendidik, bukan menimbulkan trauma.
“Saya minta anak-anak tidak terus membenci gurunya. Tapi sekolah juga harus paham, disiplin itu mendidik, bukan membuat trauma,” ujarnya.
Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) pun menyoroti kasus ini. KPAI menilai tindakan tersebut telah melanggar hak anak dan berdampak buruk secara psikologis. Mereka meminta Dinas Pendidikan Jabar melakukan evaluasi total terhadap aturan dan metode pendisiplinan di sekolah agar kejadian serupa tidak terulang.
Hingga saat ini, pihak SMKN 2 Garut dan Dinas Pendidikan dikabarkan masih melakukan koordinasi internal untuk menindaklanjuti tuntutan orang tua serta memastikan situasi di sekolah kembali kondusif. (Red)

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.