Tasikmalaya, KabarSakti.com – Reses adalah istilah yang merujuk pada kegiatan anggota legislatif diluar waktu sidang untuk berinteraksi langsung dengan konstituennya. Reses mulai tanggal 3 Oktober 2025 sampai dengan tanggal 3 November 2025, DPR RI memasuki masa reses masa persidangan I tahun sidang 2025-2026.

Adapun tujuan reses adalah untuk menyerap dan menindaklanjuti aspirasi konstituen dan pengaduan masyarakat guna memberikan pertanggungjawaban moral dan politis kepada konstituen sebagai perwujudan perwakilan rakyat yang mewakili dapil Jabar XI, Kota Tasikmalaya, Kabupaten Tasikmalaya dan Kabupaten Garut.

Daerah pemilihan atau dapil Jawa Barat XI yang meliputi wilayah Kabupaten Garut, Kabupaten dan Kota Tasikmalaya mendapat kuota kursi DPR RI sebanyak 10 kursi. Salah satu di isi oleh politisi muda asli Tassela, H. Oleh Soleh, S.H.

Guna menyerap aspirasi dalam masa reses bersama H. Oleh Soleh, S.H., Anggota MPR/DPR RI No. A 27, Komisi I dari Partai Kebangkitan Bangsa di KBIHU Al Multazam, Bantarkalong.

Kepada Kabar Sakti, H. Oleh Soleh, S.H., menuturkan, Saya ingin menyampaikan bahwa hari ini DPR RI mengunjungi dan mendengarkan aspirasi kelompok masyarakat di wilayah Tassela, terutama di Karangnunggal. Kunjungan ini bertujuan untuk menyerap aspirasi sekaligus memeriksa keadaan ekonomi masyarakat.

“Meskipun latar belakang saya di bidang keamanan, saya berkomitmen untuk memperjuangkan harapan masyarakat. Seringkali, bantuan dari pemerintah terhambat oleh akses yang terbatas dan kurangnya pengetahuan. Namun, masyarakat di sini memiliki daya jual, keunggulan, keuletan, dan kesungguhan,” ujar H. Oleh.

Lebih lanjut, kata H. Oleh Soleh, Hari ini, saya melihat bahwa kelompok masyarakat berusaha mencari modal dan akses penjualan sendiri, mereka dapat dikatakan hidup mandiri. Kedepan, saya berharap ada perhatian lebih dari pemerintah daerah hingga pusat, terutama di bidang UMKM, kredit, perikanan, dan galian, terutama dalam hal akses. Karangnunggal juga dikenal sebagai “Kampung Dollar.”

“Saya berharap Kang Cecep dan Kang Dedi dapat membantu menghidupkan kembali Kampung Dollar dengan dua langkah: pertama, memberikan akses modal; kedua, menghidupkan kembali akses penjualan dan pasar, sehingga ekosistem ekonomi masyarakat dapat meningkat,” ujar H. Oleh penuh semangat.

“Dulu, dari Karangnunggal, masyarakat bisa membawa hasil UMKM ke Tanah Abang dua kali seminggu. Kini, kegiatan itu seakan terhenti. Saya mendorong Kang Dedi dan para tokoh serta pesantren untuk bekerja sama dalam menghidupkan kembali pasar lokal. Saya bukan anti terhadap perdagangan, tetapi saya menentang praktik yang memangkas tenaga kerja dan distribusi keuntungan, baik secara lokal maupun internasional. Pasar Tanah Abang sudah berstandar internasional, dan pasar lokal seperti Cikurubuk di Tasikmalaya serta pasar di Bandung juga perlu dihidupkan kembali, termasuk warung-warung offline,” tutur H. Oleh Soleh.

Meskipun saat ini masih ada keluhan dari masyarakat terkait utang dan jaminannya, serta beberapa yang masuk daftar hitam, ini kemungkinan besar berkaitan dengan akurasi data yang belum sepenuhnya terproses. Secara prinsip, negara hadir dan telah membebaskan utang-utang UMKM tersebut. (Abucek)