Kabarsakti.com

Harapkan Penanganan Segera! Pantai Sindangkerta Tergerus: Warga Cemas Laut Mulai Mengancam Pemukiman

Tasikmalaya, KabarSakti.com – Kondisi Pantai Sindangkerta, Kecamatan Cipatujah, Kabupaten Tasikmalaya kini semakin memprihatinkan dan mengkhawatirkan. Terus-menerus diterjang abrasi air laut, benteng pengaman pantai sebagian telah hancur lebur, begitu pula pepohonan besar di tepian pantai banyak yang tumbang tersapu ganasnya gelombang.

Keprihatinan mendalam ini disampaikan langsung oleh Pemerintah Desa, Pokdarwis, Karang Taruna, tokoh masyarakat, dan seluruh warga dalam pertemuan tradisional “Ngariung”. Tak hanya kerusakan alam, para pedagang yang menggantungkan hidup di kawasan pantai pun terus dirugikan; saung tempat berjualan dan barang dagangan sering hilang terbawa arus laut pasang.

Kepala Desa Sindangkerta, Asep Suryana, menegaskan,
“Kami sudah berupaya maksimal melaporkan kondisi ini, namun kemampuan desa sangat terbatas. Abrasi ini bukan sekadar merusak objek wisata, melainkan ancaman nyata bagi tanah tempat kami tinggal. Kami mohon sekali pemerintah segera turun tangan sebelum semuanya terlambat,” tuturnya, Rabu sore, 22 Juli 2026.

Perwakilan Karang Taruna, Ali Safaat Muharom, turut berduka, “Kami anak muda sangat sedih melihat pantai kebanggaan desa perlahan hilang ditelan laut. Dulu tempat ini ramai dikunjungi wisatawan, kini justru menakutkan. Kami ingin desa maju lewat pariwisata, tapi bagaimana bisa jika lahan saja terus tergerus,” ungkapnya, saat diwawancarai media Kabar Sakti.

Tokoh masyarakat, H. Sukna, berbagi pengalaman puluhan tahun tinggal di sana, “Saya sudah puluhan tahun menetap di sini, baru kali ini abrasi terasa begitu cepat dan mengerikan. Banyak pohon besar yang dulu menahan angin kini sudah tumbang. Kami berharap ada solusi nyata dan jangka panjang, bukan sekadar janji-janji,” ujarnya.

Koordinator Pariwisata, Dede, menambahkan nasib pelaku usaha, “Para pedagang yang menggantungkan hidup di sini sering pulang dengan tangan hampa setiap kali laut pasang. Saung mereka sering hancur seketika. Jika tidak segera dibangun penahan gelombang yang kokoh, kekhawatiran laut masuk ke pemukiman warga pasti akan menjadi kenyataan pahit,” ucapnya.

Kekhawatiran terbesar warga adalah jika tidak segera ditangani, air laut dipastikan akan mulai merambah hingga ke area rumah warga.

“Sudah dua tahun kami mengajukan permohonan penanganan lewat UPTD Pengelola Sumber Daya Air (PSDA), namun hingga kini belum ada realisasi,” kata Wawan Gunawan.

Meski sudah lama menunggu, warga tak berputus asa. “Kami terus berjuang dan berharap sungguh-sungguh ada tanggapan serius, perhatian, serta realisasi nyata dari pemerintah terkait demi keselamatan dan keamanan kita semua,” pungkasnya. (Red)

Exit mobile version