Kabarsakti.com

Suasana Haru, 8 Anggota OPM Kembali ke Pangkuan NKRI: Kiwirok Ukir Harapan Baru Papua

Kiwirok, KabarSakti.com – Sebuah momentum penuh makna dan harapan terukir di Lapangan Distrik Kiwirok, Kabupaten Pegunungan Bintang, Papua Pegunungan, ketika delapan anggota TPNPB-OPM Kodap XV/Ngalum Kupel secara sukarela menyatakan kembali ke pangkuan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), Rabu 10 Juni 2026. Peristiwa ini bukan sekadar seremoni, melainkan simbol lahirnya tekad baru untuk meninggalkan konflik dan bersama-sama membangun masa depan yang damai serta sejahtera.

Kegiatan tersebut dihadiri unsur TNI, pemerintah distrik, kepala kampung, tokoh masyarakat, tokoh adat, tokoh agama, serta ratusan warga Kiwirok yang berasal dari 12 kampung. Kehadiran seluruh elemen masyarakat tersebut menjadi wujud dukungan terhadap terciptanya perdamaian dan stabilitas di wilayah Pegunungan Bintang.

Suasana khidmat terasa sejak lagu kebangsaan Indonesia Raya dikumandangkan bersama. Momen tersebut menjadi pengingat bahwa persatuan dan kebersamaan merupakan fondasi utama dalam membangun Papua yang aman, damai, dan sejahtera.

Dalam sambutannya, Wakil Panglima Komando Operasi (Wapangkoops) TNI Habema, Brigjen TNI Riyanto, S.I.P., M.M., mengungkapkan rasa syukur karena dapat kembali menginjakkan kaki di Kiwirok dan menyaksikan berbagai perubahan positif yang terus tumbuh di tengah masyarakat. Ia mengenang perjalanan panjang daerah tersebut dan menegaskan bahwa masa depan Papua tidak dibangun melalui permusuhan, melainkan melalui persaudaraan, dialog, dan kerja sama.

“Kita semua memiliki harapan yang sama, yaitu anak-anak dapat bersekolah dengan tenang, masyarakat dapat berkebun dan berdagang dengan aman, serta kampung-kampung berkembang menjadi tempat yang membawa kesejahteraan bagi seluruh warganya. Mari kita bergandengan tangan membangun Papua bersama-sama. TNI siap mendampingi masyarakat dalam mewujudkan Papua yang damai dan sejahtera,” ujarnya.

Dengan pendekatan yang humanis, Brigjen TNI Riyanto juga mengajak saudara-saudara yang hingga kini masih berada di hutan untuk tidak ragu kembali kepada keluarga dan masyarakat. Menurutnya, pintu perdamaian selalu terbuka bagi siapa pun yang ingin meninggalkan konflik dan ikut membangun kampung halamannya.

Kepala Distrik Kiwirok, Abdeus Tepmul, turut menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah menjaga situasi keamanan sehingga masyarakat kini dapat kembali menjalankan aktivitas sehari-hari dengan lebih tenang. Ia menegaskan bahwa pemerintah distrik bersama masyarakat akan terus memperkuat koordinasi dengan seluruh unsur terkait guna mempercepat pemulihan dan pembangunan di Kiwirok beserta 12 kampung yang berada di wilayahnya.

Puncak kegiatan berlangsung saat delapan anggota TPNPB-OPM secara sukarela menyerahkan Bendera Bintang Kejora, menandatangani naskah ikrar, membacakan pernyataan setia kepada NKRI, mencium Sang Merah Putih, serta menyerahkan senjata yang mereka miliki. Tindakan tersebut menjadi simbol keberanian untuk menutup lembaran lama dan memilih jalan damai demi masa depan yang lebih baik.

Suasana haru menyelimuti prosesi tersebut. Bagi masyarakat Kiwirok, peristiwa ini bukan hanya tentang kembalinya delapan orang ke pangkuan bangsa, melainkan juga tentang lahirnya harapan baru bahwa perdamaian dapat diwujudkan melalui pendekatan kemanusiaan, saling menghormati, serta membangun kepercayaan.

Setelah prosesi ikrar selesai, kegiatan dilanjutkan dengan bakti sosial, pelayanan kesehatan, ramah tamah, dan makan bersama antara Wapangkoops TNI Habema dengan masyarakat di lapangan. Momen sederhana tersebut menjadi gambaran nyata bahwa kedekatan antara aparat dan warga dapat menjadi jembatan untuk membangun rasa saling percaya, yang merupakan fondasi penting dalam menciptakan stabilitas dan mempercepat pembangunan wilayah.

Peristiwa di Kiwirok menunjukkan bahwa perdamaian sejatinya tidak hanya diukur dari berhentinya konflik, tetapi juga dari hadirnya keberanian untuk saling memaafkan, membuka ruang dialog, serta bersama-sama menata masa depan. Ketika masyarakat dapat hidup dengan aman, anak-anak dapat belajar tanpa rasa takut, pelayanan kesehatan berjalan dengan baik, dan pembangunan terus bergerak, maka harapan akan Papua yang damai dan sejahtera bukan lagi sekadar cita-cita, melainkan kenyataan yang sedang dibangun bersama. (Abucek)

Sumber: Koops TNI Habema

Exit mobile version